Advertisement

Kawasan Pecinan merupakan potongan jejak budaya Tionghoa di bumi nusantara yang masih tersisa dan dihidupi hingga saat ini. Kota Semarang sendiri merupakan salah satu kota di Indonesia yang menjadi tempat bertemu dan berkumpulnya beragam budaya di masa lalu dan jejaknya masih terlihat jelas dan terasa hingga saat ini. Peninggalan budaya Eropa dapat disaksikan di Kota Lama melalui bentuk bangunannya yang khas. Di kawasan Pekojan-Kauman terdapat warisan budaya Timur Tengah dan Gujarat. Sedangkan warisan budaya Cina sangat kental terasa di kawasan Pecinan yang terletak di Kelurahan Kranggan.

Keberadaan belasan klenteng baik klenteng marga maupun klenteng umum yang tersebar di gang-gang yang ada di Kranggan semakin mempertegas atmosfer budaya Cina. Pada awal kedatangan ke Semarang, masyarakat Tionghoa tidak tinggal di kawasan Pecinan yang sekarang melainkan bermukim di daerah Gedung Batu, Simongan. Tempat yang terletak di tepi Sungai Semarang itu merupakan lokasi strategis karena berada di teluk yang menjadi bandar besar dengan nama Pragota. Pemberontakan Cina terhadap pendudukan Belanda yang terjadi di Batavia pada tahun 1740 rupanya merembet hingga Semarang. Orang Cina yang selamat melarikan diri ke arah timur, hingga tiba di Semarang.

Sejak saat itulah, semua warga Tionghoa yang berada di Semarang berpindah ke tempat yang dikenal dengan nama Pecinan. Kepindahan warga Tionghoa dari Gedung Batu ke kawasan Pecinan ternyata berpengaruh terhadap kegiatan peribadatan mereka. Untuk pergi ke Klenteng Agung Klenteng Agung Sam Poo Kong mereka harus berjalan kaki sejauh 4 km dan membayar pajak yang besar kepada Johanes, tuan tanah Yahudi yang menguasai Gedung Batu. Berawal dari hal tersebut maka warga Tionghoa mulai mendirikan klenteng di kawasan Pecinan sebagai tempat beribadah.

Salah satu klenteng yang bersejarah adalah Klenteng Tay Kak Sie yang terletak di Gang Lombok. Klenteng yang dibangun pada tahun 1746 ini tidak hanya menjadi tempat beribadah melainkan juga tempat bersosialisasi etnis Tionghoa. Berbeda dengan Klenteng Sam Poo Kong yang telah mengalami banyak perombakan dan bersolek, Klenteng Tay Kak Sie yang menjadi klenteng induk di Pecinan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Daun pintu yang tebal dan kokoh dengan beragam ukiran dewa masih terpasang dengan sempurna. Jika klenteng biasanya didominasi warna merah, khusus untuk Klenteng Tay Kak Sie warna birulah yang mendominasi atap dan pintu.

Namun saat Anda masuk ke dalam klenteng, warna merah tetap mendominasi altar utama. Aroma hio, asap lilin, dan minyak pun tercium dengan jelas. Siapapun boleh masuk dan memotret di dalam Klenteng Tay Kak Sie sepanjang tidak mengganggu orang yang sedang berdoa. Bagaimana penasaran ingin mengetahui dan menelusuri jejak kebudayaan tionghoa di Semarang, silahkan saja Anda datang langsung ke kawasan Pecinan yang berlokasi di Daerah Kranggan, Semarang.

Advertisement